Keseleo engkel kaki atau ankle sprain adalah salah satu cedera yang paling sering dianggap remeh. Banyak orang mengira cukup istirahat sehari dua hari lalu bisa langsung beraktivitas kembali. Padahal, penanganan yang salah di awal — terutama memaksakan pijat saat masih bengkak — justru bisa memperpanjang waktu pemulihan dan meningkatkan risiko cedera berulang.
Artikel ini membahas dua fase penting: apa yang harus dilakukan segera setelah keseleo dan kapan serta bagaimana terapi pijat berperan dalam pemulihan penuh.
Apa yang Terjadi Saat Engkel Keseleo?
Saat kaki terpelintir ke arah dalam (inversion), ligamen di sisi luar pergelangan kaki — terutama Anterior Talofibular Ligament (ATFL) — mengalami regangan berlebih. Bergantung pada keparahannya, cedera dibagi menjadi tiga tingkat:
- Grade 1: Regangan ringan pada serat ligamen, sedikit bengkak, masih bisa menopang berat badan.
- Grade 2: Robekan parsial, bengkak cukup signifikan, nyeri saat berjalan.
- Grade 3: Robekan total, bengkak besar, tidak bisa menopang berat badan sama sekali.
Bersamaan dengan ligamen, otot-otot di sekitar engkel — seperti Peroneus Longus, Peroneus Brevis, dan Tibialis Posterior — juga mengalami kontraksi mendadak sebagai refleks pelindung. Ketegangan otot inilah yang sering tidak tertangani dan menjadi sumber nyeri berkepanjangan.
Fase Akut: Lakukan Protokol RICE Segera
Dalam 72 jam pertama setelah keseleo, tubuh sedang dalam fase inflamasi akut. Ini adalah proses alami yang diperlukan untuk membuang jaringan rusak. Yang harus Anda lakukan adalah mendukung proses ini, bukan mengganggunya.
Gunakan protokol RICE:
R — Rest (Istirahat)
Hentikan aktivitas segera. Hindari menumpukan berat badan pada kaki yang cedera. Gunakan kruk jika perlu, terutama pada Grade 2 dan 3.
I — Ice (Es)
Tempelkan es yang dibungkus kain tipis selama 15–20 menit, lakukan setiap 2–3 jam sekali dalam 48 jam pertama. Es membantu memperlambat aliran darah ke area cedera sehingga bengkak tidak bertambah parah.
Penting: Jangan tempelkan es langsung ke kulit — bisa menyebabkan frostbite.
C — Compression (Kompresi)
Balut pergelangan kaki dengan perban elastis untuk membatasi pembengkakan. Pastikan tidak terlalu kencang — jika jari kaki terasa kesemutan atau membiru, longgarkan segera.
E — Elevation (Elevasi)
Posisikan kaki lebih tinggi dari jantung, idealnya dengan mengganjal beberapa bantal saat berbaring. Ini membantu cairan peradangan mengalir kembali dan mempercepat penyusutan bengkak.
Apa yang Harus Dihindari di Fase Ini?
- ❌ Jangan dipijat. Memijat area yang masih meradang akan merusak pembuluh darah kecil yang sedang memperbaiki diri dan memperparah bengkak.
- ❌ Jangan kompres panas. Panas meningkatkan aliran darah ke area yang sudah meradang — berlawanan dengan yang dibutuhkan.
- ❌ Jangan dipaksakan jalan. Berjalan paksa bisa merobek serat ligamen yang sedang mencoba menyatu kembali.
Fase Sub-Akut: Saatnya Terapi Pijat Masuk
Setelah bengkak mulai mereda — biasanya 3 hingga 7 hari setelah cedera — tubuh memasuki fase sub-akut. Di sinilah jaringan parut (scar tissue) mulai terbentuk sebagai respons penyembuhan.
Masalahnya: jaringan parut sering tumbuh tidak teratur, kaku, dan membatasi ruang gerak sendi. Tanpa intervensi yang tepat, engkel Anda akan terasa kaku, mudah terkilir lagi, dan nyeri saat digunakan untuk aktivitas intensitas sedang.
Di sinilah peran terapi pijat orthopedic dari Garuda Massage dimulai.
Bagaimana Terapi Pijat Membantu Pemulihan Engkel?
1. Melepas Ketegangan Otot Kompensasi
Saat Anda pincang karena keseleo, otot-otot lain seperti betis (gastrocnemius dan soleus), paha belakang (hamstring), dan punggung bawah bekerja lebih keras untuk mengkompensasi. Akibatnya, area-area ini menjadi tegang dan nyeri.
Dengan Deep Tissue Massage pada area kompensasi, terapis membantu melepaskan ketegangan yang terakumulasi — sehingga tubuh tidak mengembangkan cedera baru di tempat yang berbeda.
2. Memecah Jaringan Parut yang Tidak Teratur
Teknik Cross-Fiber Friction dilakukan dengan memberikan tekanan melintang pada serat ligamen dan jaringan ikat yang mengeras. Tujuannya adalah membantu jaringan parut tersusun lebih rapi dan elastis, sehingga ligamen bisa kembali berfungsi dengan baik.
3. Mengembalikan Ruang Gerak Sendi
Keseleo sering meninggalkan rasa kaku pada sendi akibat jaringan yang menebal di sekitar kapsul sendi. Melalui manipulasi jaringan lunak yang terukur, terapis membantu mengembalikan fleksibilitas dan range of motion pergelangan kaki secara bertahap.
4. Memulihkan Proprioception
Salah satu dampak tersembunyi dari keseleo yang sering diabaikan adalah hilangnya proprioception — kemampuan tubuh untuk merasakan posisi sendi tanpa melihatnya. Ligamen yang cedera kehilangan sebagian reseptor sarafnya. Terapi yang difokuskan pada pemulihan jaringan lunak membantu memulihkan koneksi saraf ini agar kaki kembali “cerdas” dalam menjaga keseimbangan.
Kapan Harus ke Terapis?
Segera konsultasikan kondisi Anda ke terapis jika:
- Bengkak tidak mereda setelah 5–7 hari meskipun sudah RICE
- Nyeri terasa tajam saat berjalan biasa setelah bengkak hilang
- Kaki terasa tidak stabil atau “goyah” saat berdiri
- Keseleo berulang di tempat yang sama dalam kurun waktu beberapa bulan
Engkel yang sudah pernah keseleo memiliki risiko 40–70% lebih tinggi untuk keseleo kembali jika tidak direhabilitasi dengan benar. Ini bukan angka yang bisa dianggap remeh, terutama bagi Anda yang aktif berolahraga.
Kesimpulan
Keseleo engkel kaki membutuhkan dua fase penanganan yang berbeda namun saling melengkapi: RICE di fase akut untuk mengendalikan peradangan, dan terapi pijat di fase sub-akut untuk memulihkan fungsi otot, ligamen, dan sendi secara menyeluruh.
Jangan tunggu sampai nyeri menjadi kronis atau keseleo berulang lagi. Tim terapis bersertifikat di Garuda Massage siap membantu Anda pulih dengan pendekatan yang tepat, terstruktur, dan berbasis anatomi medis.
Referensi
- Vuurberg G, et al. Diagnosis, Treatment and Prevention of Ankle Sprains. British Journal of Sports Medicine, 2018.
- van den Bekerom MPJ, et al. What is the Evidence for Rest, Ice, Compression and Elevation Therapy in the Treatment of Ankle Sprains in Adults? Journal of Athletic Training, 2012.
- Bleakley CM, et al. The Use of Ice in the Treatment of Acute Soft-Tissue Injury. American Journal of Sports Medicine, 2004.
- Tim Garuda Massage. Keseleo karena Lari Trail dan Pemulihan Otot. 2026.
Photo by Kindel Media / Pexels